IS IT OKAY TO LIVE LIFE WITHOUT A PLAN? MY QUARTER LIFE CRISIS STORY
Saya jadi teringat
pada suatu percakapan dengan atasan saya saat magang pada tahun 2017 tepatnya
pada bulan September. Sebuah cerita dimulainya petualangan hidup di umur 20
tahunan. Sesuatu yang belum pernah saya bayangkan akan seperti ini jadinya.
Tulisan ini adalah curahan perasaan singkat dari proses pencarian jawaban. Ditulis
berulangkali sampai mendapatkan rasa yang tidak pernah berubah tentang
pentingnya rasa bersyukur.
“Apa keinginanmu? Mau ngapain
kedepannya?”
“Hmm… mau bahagia
aja deh kak hehe”.
Jawaban bahagia itu tak terdefinisikan. Bahagia jenis apa
yang saya inginkan? Saat itu
juga saya jadi kepikiran, apa ya yang benar-benar saya inginkan? saya melanjutkan
keliling kota dengan busway, mungkin hal itu akan ditemukan diperjalanan.
Sebelumnya banyak mimpi yang sejak kecil saya sudah tulis. Mimpi-mimpi tersebut
berubah seiring bertambahnya waktu karena hanya sekedar ditulis kemudian
diabaikan sehingga tidak tertanam. Jadi saya tak tahu pasti mana yang
benar-benar saya inginkan.
---
Malam itu hujan deras namun diiringi suara letusan kembang
api dan bunyi terompet. Tidak berubah dengan tahun-tahun sebelumnya, malam
pergantian tahun selalu disambut meriah. 2020 datang dan mengubah umur anak-anak
kelahiran tahun 1997 menjadi 23 tahun. Hey, pertanyaan yang terjadi pada tahun 2017 itu masih belum ketemu jawabannya. Trigonometri
dalam matematika saja punya
jawaban atas setiap pertanyaan. Berbeda dengan “keinginan” adalah pertanyaan dari jawaban tak
terumus.
Saya pikir
jadi dewasa mudah. Bisa bebas menentukan pilihan. Nyatanya memilih tidak
semudah itu. Jadi dewasa itu ketika tak ada lagi seseorang yang memberi tahu “kamu harus ngapain kedepannya”. Sebuah pesan dari saya kepada saya saat bicara di cermin. Intinya, saya
yang harus jadi orang tua atas diri saya sendiri.
Hidup sebelumnya tidak sulit. Tapi mengapa kini terasa rumit?
di usia ini tertampar kenyataan bukan lagi anak-anak. Lelah dengan
kalimat-kalimat motivasi. Ingin
bebas tapi hilang arah jadi tersesat. Mungkin dulu mikirnya hanya kepentingan senang sesaat. Tapi
sekarang, kepikiran masa depan.
Melihat orang lain lebih baik bukannya turut bahagia, malah
minder karena melihat diri sendiri tanpa rencana dan merasa belum
melakukan apapun. Padahal
gelar sarjana sudah, pekerjaan sudah, kenaikan gaji sudah, lingkungan kerja
serta bos yang baik pun juga sudah. Namun, mengapa masih haus? i’m fear of missing out. Is it okay to live life without a plan?
---
Tiba di bulan Juni yang terkenal dengan musim hujan membuat saya sendiri sadar. Jika yang dilihat hanya hasil akhirnya justru salah. Saya
lupa ada yang lebih penting dari hasil akhir. Proses. Mereka yang sukses dan
berhasil mendapatkan apa yang diinginkan pastinya melewati rintangan yang belum
saya lewati. Mereka berani lompat lebih jauh dari saya.
Saya setuju
dengan pendapat Mark
Manson dalam buku The Subtle Art
of Not Giving a Fuck. Tumbuh adalah proses berulang.
Ketika belajar hal baru, setiap orang tidak beranjak dari salah menuju benar. Namun
dari salah menuju sedikit salah dan seterusnya hingga kita dalam proses
mendekati kebenaran dan kesempurnaan itu sendiri.
Percaya
atau tidak, ingin bahagia justru masalah. Orang harus melewati masa-masa
sulit, terjatuh, tersungkur, letih, bertahan, hingga akhirnya bangkit dan bahagia. Pada
akhirnya lagi-lagi setiap orang tak akan pernah puas. Oleh karenanya bersyukur pun bukan hanya verba yang
lagi-lagi harus diingatkan. Kini saya sudah temukan
jawabannya, saya mau
jadi orang yang tidak lupa untuk selalu bersyukur apapun keadaannya.
Kalimat dari serial kartun ternama, Spongebob Squarepants “hidup seperti Larry” yang
terdengar lucu justru membangunkan
lamunan saya. Terima kasih Patrick. Sosok Larry si penjaga pantai digambarkan
selalu berani dengan tantangan dan menjalani hidup secara maksimal.
Kehidupan adalah proses pembelajaran yang tidak akan pernah
berhenti. Mulai sekarang saya
akan memilih medan juang untuk menghilangkan
kehausan saya. Saya akan
memilih rasa sakit yang saya inginkan. Dan jika saya lelah dalam proses
berjuang nanti, saya akan mengingat alasan saya ingin memulai.
Untuk saya
di masa depan, saya sudah persiapkan surat selamat untukmu. Psst.. dibuka kalau sudah siap ya.
“Hello me. Today I stuck with my own life. But I know
you’ll doing well there. Thank you to force yourself. To break your boring routine. To stop
comparing yourself with others. To stop habit watching Kdramas all day long. To start searching ideas from ted talk. To read a lot of
books. To learn something new. To brave take a risk. And the main thing, to always
pray and close to your God. Thank you for whoever you are to be.”
Comments