PUNYA IQ PAS-PASAN? TENTU GAK MASALAH
Saya gak pandai mendeskripsikan diri saya. Tapi ada dua penilaian dari orang lain yang masih saya ingat untuk terus bangkit.
Waktu SD, saya pernah test IQ. Hasilnya lucu karena IQ saya ternyata
gak sampe 100 tapi masuk klasifikasi rata-rata, ya alias pas-pasan. Diumur yang
belum bisa menyaring salah dan benar saya dihadapkan kenyataan kalau saya gak
pintar. Semenjak itu, saya menganggap tabel klasifikasi IQ adalah barisan kotak
terjahat yang pernah saya lihat.
Namun, ada momen saat kelas 4 SD yang bikin saya semangat
belajar sampai sekarang.
"Sasqia ini cerdas
loh, kalau ada hal yang dia gak ngerti, dia gak malu bertanya"
Ucapan yang terlontar dari seorang guru SD terbaik yang
pernah ada didepan kelas. Dia adalah orang pertama yang bilang saya cerdas
ditengah keterbatasan saya. Ini adalah penilaian dari orang lain tentang diri
saya pertama, tidak malu bertanya.
Hal itu yang buat saya hidup tanpa memikirkan IQ. Saya gak
peduli dan gak percaya IQ akan berdampak besar. Tapi baru paham keakuratan dari
test IQ, ketika belajar ke jenjang selanjutnya. Saya sering kesulitan memahami
pelajaran.
Jujur, sewaktu sekolah saya gak begitu ada masalah. Tapi ada
satu mata pelajaran yang selalu jadi masalah. Entah mau sekeras apapun saya
belajar, dia ini matematika. Saya sering dibuat menangis karena soal-soalnya.
Sedangkan syarat kelulusan sekolah adalah melewatinya.
Lagi-lagi ada momen dimana penilaian tentang saya datang. Dia
ini selalu menceritakan tentang saya seperti ini kepada siapapun.
“Sasqia ini tau
keterbatasan dirinya, karena dia merasa gak pintar jadi dia giat dan tekun
belajar demi tujuannya”.
Dan ini jadi penilaian kedua tentang saya yang baru saya
sadari, mau belajar. Terima kasih ibu.
Comments